STARK™
Welcome To Stars Cheaters

Oh...............Tante Susi

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Oh...............Tante Susi

Post by |VJ|NaZtHeW on November 15th 2010, 9:49 am

Ketika itu saya baru berumur 12 tahun, sebagai anak tunggal. Sewaktuorang tua saya sedang pergi keluar negeri. Teman baik ibuku, TanteSusi, yang berumur 26 tahun, diminta oleh orang tuaku untuk tinggal dirumah menjagaiku. Karena suaminya harus keluar kota, Tante Susi akanmenginap di rumahku sendirian. Tante Susi badannya agak tinggi,rambutnya dipotong pendek sebahu, kulitnya putih bersih, wajahnya ayu,pakaian dan gayanya seksi. Tentu saja saya sangat setuju sekali untukditemani oleh Tante Susi.

Biasanya, setiap ada kesempatan sayasuka memainkan kemaluanku sendirian. Tapi belum pernah sampai keluar,waktu itu saya masih belum mengerti apa-apa, hanya karena rasanyanikmat. Mengambil kesempatan rumah lagi kosong dan Tante Susi jugabelum datang. Setelah pulang sekolah, saya ke kamar tidurku sendirianmemijit-mijit kemaluanku sembari menghayalkan tubuh Tante Susi yangseksi. Kubayangkan seperti yang pernah kulihat di majalah porno dariteman-temankuku di sekolah. Selagi asyiknya bermain sendirian tanpakusadari Tante Susi sudah tiba di rumahku dan tiba-tiba membuka pintukamarku yang lupa kukunci.

Dia sedikit tercengang waktumelihatku berbaring diatas ranjang telanjang bulat, sembari memegangikemaluanku yang berdiri. Aduh malunya setengah mati, ketangkap basahlagi mainin burung. Segera kututupi kemaluanku dengan bantal, wajahkuputih pucat.
Melihatku ketakutan, Tante Susi hanya tersenyum danberkata", Eh, kamu sudah pulang sekolah Asan., Tante juga baru sajadatang". Saya tidak berani menjawabnya.
"Tidak usah takut dan malusama Tante, itu hal biasa untuk anak-anak mainin burungnya sendiri"ujarnya. Saya tetap tidak berani berkutik dari tempat tidur karenasangat malu.
Tante Susi lalu menambah, "Kamu terusin saja mainnya, Tante hanya mau membersihkan kamar kamu saja, kok".
"Tidakapa-apa kan kalau Tante turut melihat permainanmu", sembari melirikmenggoda, dia kembali berkata "Kalau kamu mau, Tante bisa tolonginkamu, Tante mengerti kok dengan permainanmu, Asan.", tambahnya sembarimendekatiku.
"Tapi kamu tidak boleh bilang siapa-siapa yah, ini akanmenjadi rahasia kita berdua saja". Saya tetap tidak dapat menjawabapa-apa, hanya mengangguk kecil walaupun saya tidak begitu mengerti apamaksudnya.

Tante Susi pergi ke kamar mandi mengambil Baby Oildan segera kembali ke kamarku. Lalu dia berlutut di hadapanku. Bantalkudiangkat perlahan-lahan, dan saking takutnya kemaluanku segera mengecildan segera kututupi dengan kedua telapak tanganku.
"Kemari dong,kasih Tante lihat permainanmu, Tante janji akan berhati-hati deh",katanya sembari membujukku. Tanganku dibuka dan mata Tante Susi mulaiturun ke bawah kearah selangkanganku dan memperhatikan kemaluanku yangmengecil dengan teliti. Dengan perlahan-lahan dia memegang kemaluankudengan kedua jarinya dan menuruni kepalanya, dengan tangan yang satulagi dia meneteskan Baby Oil itu di kepala kemaluanku, senyumnya tidakpernah melepaskan wajahnya yang cantik.
"Tante pakein ini supaya rada licin, kamu pasti suka deh" katanya sembari mengedipkan sebelah matanya.

Malunyasetengah mati, belum ada orang yang pernah melihat kemaluanku, apa lagimemegangnya. Hatiku berdebar dengan kencang dan wajahku merah karenamalu. Tapi sentuhan tangannya terasa halus dan hangat.
"Jangan takutAsan., kamu rebahan saja", ujarnya membujukku. Setelah sedikit tenangmendengar suaranya yang halus dan memastikan, saya mulai dapatmenikmati elusan tangannya yang lembut. Tangannya sangat mahirmemainkan kemaluanku, setiap sentuhannya membuat kemaluanku bergetardengan kenikmatan dan jauh lebih nikmat dari sentuhan tanganku sendiri.
"Lihatitu sudah mulai membesar kembali", kemudian Tante Susi melumuri BabyOil itu ke seluruh batang kemaluanku yang mulai menegang dan keduabijinya. Kemudian Tante Susi mulai mengocok kemaluanku digenggamannyaperlahan-lahan sambil membuka lebar kedua pahaku dan mengusap bijikuyang mulai panas membara.

Kemaluanku terasa kencang sekali,berdiri tegak seenaknya dihadapan muka Tante Susi yang cantik. PerlahanTante Susi mendekati mukanya kearah selangkanganku, seperti sedangmempelajarinya. Terasa napasnya yang hangat berhembus di paha dan dibijiku dengan halus. Saya hampir tidak bisa percaya, Tante Susi yangbaru saja kukhayalkan, sekarang sedang berjongkok diantaraselangkanganku.

Setelah kira-kira lima menit kemudian, sayatidak dapat menahan rasa geli dari godaan jari-jari tangannya.Pinggulku tidak bisa berdiam tenang saja di ranjang dan mulai mengikutisetiap irama kocokan tangan Tante Susi yang licin dan berminyak. Belumpernah saya merasa seperti begitu, semua kenikmatan duniawi ini sepertiberpusat tepat ditengah-tengah selangkanganku.
Mendadak Tante Susikembali berkata, "Ini pasti kamu sudah hampir keluar, dari pada nantikotorin ranjang Tante hisap saja yah". Saya tidak mengerti apa yang diamaksud. Dengan tiba-tiba Tante Susi mengeluarkan lidahnya dan menjilatkepala kemaluanku lalu menyusupinya perlahan ke dalam mulutnya.

Hampirsaja saya melompat dari atas ranjang. Karena bingung dan kaget, sayatidak tahu harus membikin apa, kecuali menekan pantatku keras ke dalamranjang. Tangannya segera disusupkan ke bawah pinggulku danmengangkatnya dengan perlahan dari atas ranjang. Kemaluanku terangkattinggi seperti hendak diperagakan dihadapan mukanya. Kembali lidahnyamenjilat kepala kemaluanku dengan halus, sembari menyedot ke dalammulutnya. Bibirnya merah merekah tampak sangat seksi menutupi seluruhkemaluanku. Mulut dan lidahnya terasa sangat hangat dan basah. Lidahnyadipermainkan dengan sangat mahir. Matanya tetap memandang matakuseperti untuk meyakinkanku. Tangannya kembali menggenggam kedua bijiku.Kepalanya tampak turun naik disepanjang kemaluanku, saya berasa gelisetengah mati. Ini jauh lebih nikmat daripada memakai tangannya.

Sekali-sekaliTante Susi juga menghisap kedua bijiku bergantian dengangigitan-gigitan kecil. Dan perlahan turun ke bawah menjilat lubangpantatku dan membuat lingkaran kecil dengan ujung lidahnya yang terasasangat liar dan hangat. Saya hanya dapat berpegangan erat ke bantalku,sembari mencoba menahan rintihanku. Kudekap mukaku dengan bantal,setiap sedotan kurasa seperti yang saya hendak menjerit. Napasku tidakdapat diatur lagi, pinggulku menegang, kepala saya mulai pening darikenikmatan yang berkonsentrasi tepat diantara selangkanganku. Mendadakkurasa kemaluanku seperti akan meledak. Karena rasa takut dan panik,kutarik pinggulku kebelakang. Dengan seketika, kemaluanku sepertimempunyai hidup sendiri, berdenyut dan menyemprot cairan putih yanglengket dan hangat ke muka dan ke rambut Tante Susi. Seluruh badankubergetar dari kenikmatan yang tidak pernah kualami sebelumnya. Sayatidak sanggup untuk menahan kejadian ini. Saya merasa telah berbuatsesuatu kesalahan yang sangat besar. Dengan napas yang terengah-engah,saya meminta maaf kepada Tante Susi atas kejadian tersebut dan tidakberani untuk menatap wajahnya.
Tetapi Tante Susi hanya tersenyumlebar, dan berkata "Tidak apa-apa kok, ini memang harus begini",kembali dia menjilati cairan lengket itu yang mulai meleleh dari ujungbibirnya dan kembali menjilati semua sisa cairan itu dari kemaluankusehingga bersih.
"Tante suka kok, rasanya sedap", tambahnya.

Denganpenuh pengertian Tante Susi menerangkan bahwa cairan itu adalah airmani dan itu wajar untuk dikeluarkan sekali-sekali. Kemudian denganpenuh kehalusan dia membersihkanku dengan handuk kecil basah danmenciumku dengan lembut dikeningku.

Setelah semuanya mulai mereda, dengan malu-malu saya bertanya, "Apakah perempuan juga melakukan hal seperti ini?".
TanteSusi menjawab "Yah, kadang-kadang kita orang perempuan juga melakukanitu, tapi caranya agak berbeda". Dan Tante Susi berkata yang kalau sayamau, dia dapat menunjukkannya. Tentu saja saya bilang yang saya maumenyaksikannya.

Kemudian jari-jari tangan Tante Susi yang lentikdengan perlahan mulai membuka kancing-kancing bajunya, memperagakantubuhnya yang putih. Waktu kutangnya dibuka buah dadanya melejit keluardan tampak besar membusung dibandingkan dengan perutnya yang mengecilramping. Kedua buah dadanya bergelayutan dan bergoyang dengan indah.Dengan halus Tante Susi memegang kedua tanganku dan meletakannya diatas buah dadanya. Rasanya empuk, kejal dan halus sekali, ujungnya agakkeras. Putingnya warna coklat tua dan agak besar. Tante Susi memintakuuntuk menyentuhnya. Karena belum ada pengalaman apa-apa, saya pencetsaja dengan kasar. Tante Susi kembali tersenyum dan mengajariku untukmengelusnya perlahan-lahan. Putingnya agak sensitif, jadi kita haruslebih perlahan disana, katanya. Tanganku mulai meraba tubuh Tante Susiyang putih bersih itu. Kulitnya terasa sangat halus dan panas membaradibawah telapak tanganku. Napasnya memburu setiap kusentuh bagian yangtertentu. Saya mulai mempelajari tempat-tempat yang disukainya.

Tidaklama kemudian Tante Susi memintaku untuk menciumi tubuhnya. Ketika sayamulai menghisap dan menjilat kedua buah dadanya, putingnya terasamengeras di dalam mulutku. Napasnya semakin menderu-deru, membuat buahdadanya turun naik bergoyang dengan irama. Lidahku mulai menjilatiseluruh buah dadanya sampai keduanya berkilat dengan air liurku mukanyatampak gemilang dengan penuh gairah. Bibirnya yang merah merekahdigigit seperti sedang menahan sakit. Roknya yang seksi dan ketat mulaitersibak dan kedua lututnya mulai melebar perlahan. Pahanya yang putihseperti susu mulai terbuka menantang dengan gairah di hadapanku. TanteSusi tidak berhenti mengelus dan memeluki tubuhku yang masih telanjangdengan kencang. Tangannya menuntun kepalaku ke bawah kearah perutnya.Semakin ke bawah ciumanku, semakin terbuka kedua pahanya, roknyatergulung ke atas. Saya mulai dapat melihat pangkal paha atasnya danterlihat sedikit bulu yang hitam halus mengintip dari celah celanadalamnya. Mataku tidak dapat melepaskan pemandangan yang sangat indahitu.

Kemudian Tante Susi berdiri tegak di hadapanku denganperlahan Tante Susi mulai membuka kancing roknya satu persatu danmembiarkan roknya terjatuh di lantai. Tante Susi berdiri di hadapankuseperti seorang putri khayalan dengan hanya memakai celana dalamnyayang putih, kecil, tipis dan seksi. Tangannya ditaruh di pingulnya yangputih dan tampak serasi dengan kedua buah dadanya diperagakannya dihadapanku. Pantatnya yang hanya sedikit tertutup dengan celana dalamseksi itu bercuat menungging ke belakang. Tidak kusangka yang seorangwanita dapat terlihat begitu indah dan menggiurkan. Saya sangatterpesona memandang wajah dan keindahan tubuhnya yang bercahaya danpenuh gairah.

Tante Susi menerangkan yang bagian tubuh bawahnyajuga harus dimainkan. Sambil merebahkan dirinya di ranjangku, TanteSusi memintaku untuk menikmati bagiannya yang terlarang. Saya mulaimeraba-raba pahanya yang putih dan celana dalamnya yang agak lembab danbernoda. Pertama-tama tanganku agak bergemetar, basah dari keringatdingin, tetapi melihat Tante Susi sungguh-sungguh menikmati semuaperbuatanku dan matanya juga mulai menutup sayu, napasnya semakinmengencang. Saya semakin berani dan lancang merabanya. Kadang-kadangjariku kususupkan ke dalam celana dalamnya menyentuh bulunya yanglembut. Celana dalamnya semakin membasah, noda di bawah celana dalamnyasemakin membesar. Pingulnya terangkat tinggi dari atas ranjang. Keduapahanya semakin melebar dan kemaluannya tercetak jelas dari celanadalamnya yang sangat tipis itu.

Setelah beberapa lama, TanteSusi dengan merintih memintaku untuk membuka celana dalamnya.Pinggulnya diangkat sedikit supaya saya dapat menurunkan celanadalamnya ke bawah. Tante Susi berbaring di atas ranjang tanpa sehelaibenangpun yang menutupi tubuhnya. Disitu untuk pertama kali saya dapatmenyaksikan kemaluan seorang wanita dari jarak yang dekat dan bukanhanya dari majalah. Bulu-bulu di atas kemaluannya itu tampak hitamlembut, tumbuh dengan halus dan rapi dicukur, sekitar kemaluannya telahdicukur hingga bersih membuat lekuk kemaluannya tampak dari depan.Tante Susi membuka selangkangannya dengan lebar dan menyodorkankewanitaannya kepadaku tanpa sedikit rasa malu. Sembari bangkit dudukdi tepi ranjang, Tante Susi memintaku untuk berjongkok diantara keduapahanya untuk memperhatikan vagina nya dari jarak dekat. Dengan penuhgairah kedua jarinya mengungkap bibir kemaluannya yang rada tebal dankehitam-hitaman dan memperagakan kepadaku lubang vaginanya yang basahdan berwarna merah muda.

Dengan nada yang ramah, Tante Susimenggunakan jari tangannya sendiri dengan halus, menerangkan kepadakusatu persatu seluruh bagian tubuh bawahnya. Tempat-tempat dancara-caranya untuk menyenangkan seorang wanita. Kemudian Tante Susimulai menggunakan jari tanganku untuk diraba-rabakan kebagian tubuhbawahnya. Rasanya sangat hangat, lengket dan basah. Clitorisnya semakinmembesar ketika saya menyentuhnya. Aroma dari vaginanya mulai memenuhiudara di kamarku, aromanya menyenangkan dan berbau bersih. Dari dalamlubang vaginanya perlahan-lahan keluar cairan lengket berwarna putihdan kental dan mulai melumuri semua permukaan lubang vaginanya.Mengingat apa yang dia sudah lakukan dengan air maniku, saya kembalibertanya "Boleh nggak saya mencicipi air mani Tante?" Tante Susi hanyamengangguk kecil dan tersenyum.

Perlahan saya mulai menjilatipahanya yang putih dan sekitar lubang vagina Tante Susi yang merah danlembut. Cairannya mulai mengalir keluar dengan deras keselangkangannya. Lidahku menangkap tetesan itu dan mengikuti alirancairan itu sampai balik ke asal lubangnya. Rasanya agak keasinan denganberbau sangat khas, tidak seperti kata orang, cairan Tante Susi sangatbersih dan tidak berbau amis. Begitu pertama saya mencicipi alatkelamin Tante Susi, saya tahu yang saya dapat menjilatinyaterus-menerus, karena saya sangat menyukai rasanya. Tante Susi mendadakmenjerit kecil ketika lidahku menyentuh clitorisnya. Saya tersentaktakut karena mungkin saya telah membuatnya sakit. Tetapi Tante Susikembali menjelaskan bahwa itu hal biasa kalau seseorang mengerang waktumerasa nikmat.

Semakin lama, saya semakin berani untuk menjilatidan menghisapi semua lubang vagina dan clitorisnya. Pinggulnya diangkatnaik tinggi. Tangannya tidak berhenti memeras buah dadanya sendiri,cengkramannya semakin menguat. Napasnya sudah tidak beraturan lagi.Kepalanya terbanting ke kanan dan ke kiri. Pinggul dan pahanyakadang-kadang mengejang kuat, berputar dengan liar. Kepalaku terkadangtergoncang keras oleh dorongan dari kedua pahanya. Tangannya mulaimenjambak rambutku dan menekan kepalaku erat kearah selangkangannya.Dari bibirnya yang mungil itu keluar desah dan rintihan memanggilnamaku, seperti irama di telingaku. Keringatnya mulai keluar darisetiap pori-pori tubuhnya membuat kulitnya tampak bergemilang di bawahcahaya lampu. Matanya sudah tidak memandangku lagi, tapi tertutup rapatoleh bulu mata yang panjang dan lentik. Sembari merintih Tante Susimemintaku untuk menyodok-nyodokkan lidahku ke dalam lubang vaginanyadan mempercepat iramaku. Seluruh mukaku basah tertutup oleh cairan yangbergairah itu.

Kemudian Tante Susi memintaku untuk berbaliksupaya dia juga dapat menghisap kemaluanku bersamaan. Setelah melumurikedua buah dadanya yang busung itu dengan Baby Oil, Tante Susimenggosok-gosokkan dan menghimpit kemaluanku yang sudah keras kembalidiantara buah dadanya, dan menghisapinya bergantian. Kemudian TanteSusi memintaku untuk lebih berkonsentrasi di clitorisnya danmenyarankanku untuk memasuki jariku ke lubang vaginanya. Dengan penuhgairah saya pertama kalinya merasakan bahwa kelamin wanita itu dapatberasa begitu panas dan basah. Otot vaginanya yang terlatih terasamemijiti jari tanganku perlahan. Bibir dan lubang vaginanya tampakmerekah, berkilat dan semakin memerah. Clitorisnya bercahaya danmembesar seperti ingin meledak. Setelah tidak beberapa lama, Tante Susimemintaku untuk memasukkan satu jariku ke dalam lubang pantatnya yangketat. Dengan bersamaan, Tante Susi juga masukkan satu jarinya pula kedalam lubang pantatku. Tangannya dipercepat mengocok kemaluanku.Pahanya mendekap kepalaku dengan keras. Pinggulnya mengejang keras.Terasa dilidahku urat-urat sekitar dinding vaginanya berkontraksi kerasketika dia keluar. Saya menjerit keras bersama-sama Tante Susi sembarimemeluknya dengan erat, kita berdua keluar hampir bersamaan. Kali iniTante Susi menghisap habis semua air maniku dan terus menghisapikemaluanku sampai kering.

Setelah itu kita berbaring telanjangterengah mengambil napas. Badannya yang berkeringat dan melemah, terasasangat hangat memeluki tubuhku dari belakang, tangannya tetapmenghangati dan mengenggam kemaluanku yang mengecil. Aroma dari yangbaru saja kita lakukan masih tetap memenuhi udara kamarku. Wajahnyatampak gemilang bercahaya menunjukan kepuasan, senyumnya kembalimenghiasi wajahnya yang terlihat lelah. Lalu kita jatuh tertidurberduaan dengan angin yang sejuk meniup dari jendela yang terbuka.Setelah bangun tidur, kita mandi bersama. Waktu berpakaian Tante Susimencium bibirku dengan lembut dan berjanji yang nanti malam dia akanmengajari bagaimana caranya bila kejantananku dimasukkan ke dalamkewanitaannya.

Sejak hari itu, selama satu minggu penuh, setiapmalam saya tidur di kamar tamu bersama Tante Susi dan mendapatpelajaran yang baru setiap malam. Tetapi setelah kejadian itu, kitatidak pernah mendapat kesempatan kembali untuk melanjutkan hubungankami. Hanya ada peristiwa sekali, waktu orangtuaku mengadakan pesta dirumah, Tante Susi datang bersama suaminya. Di dapur, waktu tidak adaorang lain yang melihat, Tante Susi mencium pipiku sembari merabakemaluanku, tersenyum dan berbisik "Jangan lupa dengan rahasia kitaAsan."
Dua bulan kemudian Tante Susi pindah ke kota lain bersamasuaminya. Sampai hari ini saya tidak akan dapat melupakan satu mingguyang terbaik itu di dalam sejarah hidupku. Dan saya merasa sangatberuntung untuk mendapat seseorang yang dapat mengajariku bersetubuhdengan cara yang sangat sabar, sangat profesional dan semanis TanteSusi.

|VJ|NaZtHeW
Corporal Grade IV
Corporal Grade IV

Gender: Male Sagittarius Jumlah posting: 40
Reputasi: 176
Cendol: 14
Birthday: 17.12.94
Join date: 20.10.10
Age: 19
Lokasi: Yogyakarta

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik