STARK™
Welcome To Stars Cheaters

Oh............Tante Murni Part I

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Oh............Tante Murni Part I

Post by |VJ|NaZtHeW on November 15th 2010, 9:45 am

Ibuku adalah 7 bersaudara, dan beliau adalah anak tertua kedua,kemudian adik-adiknya ada 4 orang, berturut-turut perempuan dan yangbungsu laki laki, adik perempuan yang terkecil tinggal bersama kamisejak aku masih kecil.

Sejak aku usia 8 tahun (kira kira kelas 3SD), tanteku itu mulai ikut tinggal di rumah kami, sebut saja TanteMurni. Tante Murni terpaut sekitar 6 tahun denganku, jadi waktu ituusianya 14 thn. Setelah lulus SMP di K, Tante Murni tidak maumeneruskan ke SMA dan memilih ikut kakaknya di Jakarta, katanya mautahu Jakarta. Wajah Tante Murni sangat menarik, bulat, cukup cantik,kulit sawo matang, dengan tinggi seperti anak perempuan usia 14 tahun,tetapi dalam pandanganku sepertinya tubuh Tante Murni lebih montokdibanding teman seusianya yang lain. Sebagai gadis remaja yang sedangmekar tubuhnya, tanteku ini juga agak sedikit genit. Dia senangberlama-lama jika sedang merias dirinya di depan cermin, aku seringmenggodanya dan Tante Murni selalu tertawa saja.

Aku sendirianak tertua dari tiga bersaudara (semua saudaraku perempuan). Rumahkuwaktu itu hanya mempunyai 3 kamar, satu kamar orang tuaku dan dua untukanak anak. Kedua adikku tidur dalam satu kamar, dan aku menempati kamarlain yang lebih kecil. Sejak Tante Murni tinggal dengan kami, tantetidur dengan kedua adikku ini.

Pergaulan Tante Murni dengantetangga sekitar juga sangat baik, ia cepat akrab dengan anak remajasebayanya, antara lain tetangga kami Suli. Usianya tak jauh beda dengantanteku kira-kira 15 tahun, tapi berbeda dengan tanteku, Suli berkulitputih bersih dan jauh lebih tinggi (kata orang bongsor), wajahnya ayu,rambutnya selalu disisir poni, murah senyum dan baik hati. Ia sangatbaik terhadap semua saudaraku terlebih terhadapku, mungkin karena iaanak tunggal dan sangat mendambakan seorang adik laki-laki seperti yangsering dikatakannya kepadaku. Mbak Suli sering bermain di rumah kami,bahkan beberapa kali ikut tidur di rumah kami bila hari libur, oh yaMbak Suli ini kelas 2 SMEA.

Sekitar dua bulan setelah TanteMurni tinggal di rumahku, suatu saat Ibu dan almarhum ayahku harusmeninggalkan kami karena suatu urusan di Jawa Tengah (almarhum berasaldari sana) katanya urusan warisan atau apalah waktu itu aku tidakbegitu paham. Adikku yang kecil (2,5 thn.) diajak serta, sedangkan kamidititipkan pada tetangga sebelah rumah (kami saling dekat dengantetangga kiri-kanan) dan tentu saja pada Tante Murni.

TanteMurni orangnya sangat telaten mengurus para keponakan, mungkin karenadi desa dulu memang tanteku itu orang yang "prigel" dalam pekerjaanrumah tangga. Setiap hari Tante Murni bersama adikku selalu mengantarkusekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah. Lalu ia pulangdan menjemputku lagi pada jam pulang sekolah (kira-kira pukul 10:30).Aku sangat senang dijemput Tante Murni, karena aku punya kesempatanuntuk menggandengnya dan menepuk pantatnya yang montok itu. Entahmengapa meskipun aku saat itu masih kecil, tetapi kemontokan dada TanteMurni serta juga pinggulnya yang menonjol itu membuat aku selaluberusaha menyentuhnya terutama secara "pura pura" tidak sengaja.Semuanya itu aku lakukan secara intuitif saja, tanpa ada siapapun yangmengajari.

Pada hari keempat sejak ditinggal pergi kedua orangtuaku (hari Sabtu), Sepulang sekolah, kami bermain di ruang depansambil nonton televisi. Aku, adikku, Tante Murni dan Mbak Suli. Orangtua Mbak Suli inilah yang dititipi oleh orang tuaku. Masa kecilkumemang lebih banyak dihabiskan di dalam rumah, jarang aku bermain diluar rumah kecuali bila sekolah, dan pergaulanku juga lebih banyakdengan adikku, atau beberapa anak sebaya tetangga terdekat, itupunkebanyakan mereka perempuan.

Kami biasanya bermain mobil-mobilanatau sesekali bermain dokter-dokteran, aku jadi dokter lalu Tante Murnidan Mbak Suli menjadi pasien. Kadang-kadang bila aku sedangberpura-pura memeriksa dengan stetoskop mainanku secara mencuri-curiaku menyenggol payudara Mbak Suli atau tanteku, tapi mereka tidak marahhanya tersenyum sambil berkata, "Eh, koq dokternya nakal, ya". sambiltertawa, terkadang membalas dengan cubitan ke pipi atau lenganku, yangselalu kuhindari. Memang mulanya aku tak sengaja tapi sepertinya asyikjuga menyenggol payudara mereka, maka hal itu menjadi kebiasaanku,setiap kali permainan itu. Terasa sekali payudara mereka kenyal danempuk, setelah aku besar baru aku menyadari bahwa saat itu mereka pastitak memakai beha, karena tak terasa ada sesuatu yang menghalangisentuhan jariku pada daging montok itu kecuali lapisan baju mereka.Setiap kali tanganku menyentuh meremas atau menowel bukit empuk itu,aku merasakan ada getaran aneh terutama di sekitar kemaluanku, takjarang membuatnya menegang, walaupun waktu itu masih kecil dan belumsunat. Sering aku mengkhayalkan memegang payudara mereka bila sedangsendirian di kamarku sambil memegang burung kecilku, hingga tegangwalaupun tak sampai mengeluarkan sperma, hanya cairan bening, seperticairan lem uhu tapi tidak seperti lem lengketnya.

Siang itusetelah adikku tertidur kami kembali bermain dokter-dokteran dan halitu kulakukan lagi. Untuk diperiksa kuminta Tante Murni untuk berbaringdi lantai, dia menurut saja. Yang pertama kuperiksa adalah dahinya laluaku langsung meletakkan stetoskopku di dadanya, namun aku sengajamemposisikan tanganku sedemikian rupa sehingga tanganku berhasilmenempel di dada Tante Murni, kurasakan empuk sekali dan seiring dengannapasnya, tangankupun ikut naik turun pelan-pelan. Tante Murni hanyatertawa saja, sementara Mbak Suli memperhatikan sambil tertawa, rupanyamereka geli atas kekurangajaranku ini, sepertinya Tante Murni keenakandengan tingkahku ini, tanganku tak hanya memeriksa di satu tempattetapi terus bergeser, dan aku tak pernah mengangkat tanganku darigundukan kenyal itu.

Sampai tiba-tiba Tante Murni memegangtanganku dan menggosok-gosokannya di dadanya. Aku merasa senang sekali,apalagi Tante Murni juga tiba-tiba merangkul dan menciumiku dengangemas, tapi ya cuma begitu saja. Karena selanjutnya Mbak Suli yangminta diperiksa, Mbak Suli malahan lebih gila lagi, dia sengaja membukakancing blus-nya sehingga aku bisa melihat gundukan daging yang putihitu. Tanganku gemetar ketika meletakkan stetoskop plastikku di tepigundukan dadanya, apalagi ketika dengan suara nyaring Mbak Suliberkata, "Mas.. (dia biasa memanggilku Mas seperti adik adikku, begitujuga Tante Murni), dingin stetoskopmu!". Tanpa mempedulikan ucapannya,stetoskopku terus bergeser sehingga tersingkaplah bajunya dan matakuterbelalak melihat puting susunya yang kecil dan berwarna coklat mudaitu.

Saat itulah Mbak Suli menepis tanganku sambil tertawa,"Sudah sudah, geli!". Mereka berdua langsung berdiri dan meninggalkankusambil berbisik-bisik, aku merengek agar mereka tetap menemanikubermain, tetapi mereka terus keluar sambil tertawa. Aku merasakan kalaupenisku kaku sekali dan juga celanaku jadi basah, entah mengapa akujadi penasaran sekali dengan semua ini, aku bertekad kalau besok maindokter-dokteran lagi, akan aku singkap baju Tante Murni atau Mbak Sulibiar aku bisa melihat lebih jelas puting susu yang menonjol bulat itu.

Malamnyasebelum tidur aku kembali membayangkan kejadian siang itu, kurasakanpenis kecilku meregang sehingga kubuka celana pendekku dan kukeluarkanpenisku yang sudah tegak ke atas itu. Kupegang dan kuremas pelan-pelan,sambil memejamkan mata kubayangkan kekenyalan dada Tante Murni, putingsusu Mbak Suli, terasa nikmat sekali melamun sambil merasakan sesuatuyang gatal dan nikmat di sekitar penisku itu. "Hayo., lagi ngapain!,Aku jadi kaget dan terlonjak serta membuka mataku. Di depanku kulihatTante Murni sambil tersenyum memandang bagian bawah tubuhku yangterbuka itu. Mukaku terasa panas, mungkin merah padam mukaku, sambilmembetulkan celana yang hanya kupelorotkan sampai dengkul aku segeramemeluk guling tanpa berkata apa apa lagi dan membelakangi tanteku.

Sambilterus tertawa tanteku ikut naik ke ranjangku dan memelukku daribelakang dan menciumku sambil berbisik, "Nggak apa apa Mas.". Jantungkudeg-deg, apalagi ketika dengan lembut tanteku membelai rambutku terustubuhku sambil berbisi, "Ehh, jangan malu, kamu senang ya peganginburung, sini tante pegangin". Mulanya aku ragu, takut kalau tantekuhanya memancing reaksiku saja, tetapi ketika rabaannya turun ke arahselangkanganku aku jadi berubah senang. Kuberanikan diri untukmenolehnya dan kudapati wajah tanteku yang tersenyum manis sekalimembuat hatiku berbunga bunga. Burungku yang tadinya sudah mengecil itumendadak meregang lagi dan mendesak celanaku.

Tanteku kemudianmenciumi wajahku dengan kasih sayang, tangannya mulai meraba lagibagian sensitifku dari bagian luar celanaku, aku yakin tanteku bisamerasakan penisku yang meregang dan keras itu, elusan tanteku terasakurang nikmat, aku berpikir seandainya tanteku memegang langsungburungku, tentu lebih nikmat. Belum habis aku berpikir, tiba-tiba sajaTante Murni memelorotkan celana pendekku sampai terlepas, sehinggaburungku yang sudah tegang itu bebas mengacung diudara terbuka. Dengankelima jarinya tanteku menggenggam burungku dan meremasnya pelan. Akumerasa gatal dan geli serta nikmat yang tak kumengerti tapi membuat akumerasa seperti melayang dan menggeliat serta merintih pelan.

Denganmemandang tajam mataku, remasan jari lentik Tante Murni di burungkumenjadi semakin cepat bahkan juga dikocoknya naik turun kadang-kadangjuga dielusnya buah pelirku. Aku semakin meringis merasakan kenikmatanini, secara naluriah aku berusaha merangkul tanteku agar rasa geli itumakin terasa nikmat. Aku juga berusaha menempelkan wajahku ke wajahTante Murni yang kulihat juga merah padam dan bibirnya gemetar, nafasTante Murni semakin memburu dan dia makin merapatkan tubuhnya ke tubuhkecilku, tanganku diraihnya lalu dituntun ke dadanya yang montok dankenyal itu.

Tanganku terasa menempel di puting susu Tante Murniyang terasa keras seperti kelereng itu, aku meremasnya dengan agaksulit, karena telapak tanganku yang kecil itu tak bisa meremaskeseluruhan permukaan dada Tante Murni yang lebar dan keras ituKuperhatikan tanteku saat itu mengenakan daster kaos yang tipis tanpamengenakan apa apa lagi dibaliknya. Merasa kurang puas hanya meremasdari luar, akupun menyelusupkan tanganku ke lubang tangan daster TanteMurni sehingga tanganku secara langsung bersentuhan dengan dada yangtelah lama aku kangeni itu, hangat dan licin sekali. Kalau tadinyatanteku yang asyik meremas-remas burungku, sekarang justru aku yangberingas meremas-remas payudara tanteku bahkan tanganku yang lain jugaikut ikutan meremas payudara Tante Murni yang satunya. Tante Murnihanya memejamkan matanya rapat rapat sambil menggigit bibirnya.

Akutak mempedulikan apapun sikap Tante Murni, bagiku kesempatan emas iniharus benar-benar dinikmati dan peduli dengan tanteku. Tanganku bukanhanya meremas, tetapi juga memelintir puting susu tanteku yang kecildan keras itu, lucu sekali melihat kedua tanganku menelinap danbergerak-gerak di dalam daster tanteku. Kurasakan tangan tanteku sudahtak mengocok penisku, tetapi hanya kadang kadang saja dia meremasnyadengan keras membuat aku kesakitan. Dari luar dadanya yang berdastermulutku ikut ikutan menciumi dada tanteku itu, rasanya bilamemungkinkan aku ingin memanfaatkan seluruh tubuhku untuk menikmatikekenyalan dada Tante Murni ini.

Tak kusadari nafas tantekumakin lama makin memburu, rupanya dia juga sangat menikmati kekasarantanganku ini. Tiba-tiba saja Tante Murni mengangkat dasternya sehinggadadanya tersibak, baru saat itu aku bisa melihat kemontokan payudaratanteku ini, tanganku hanya dapat menutupi sebagian ujung ataspayudaranya, sedangkan bagian yang lain masih belum tersentuh olehremasanku. Dada yang montok itu dipenuhi oleh barut-barut merah bekasremasanku. Setelah dadanya terbuka dengan gemetar Tante Murni berbisik," Mas, isep pentilnya pelan-pelan ya". Tak perlu diperintah dua kali,aku segera melumat puting susu tanteku dan mengenyotnya sekuatku, TanteMurni mendesis desis dan menekan kepalaku kuat kuat kedadanya, akumemeluk pinggangnya dan kutindih badan Tante Murni dengan tubuhku yangtelanjang bawah itu. Terasa burungku yang kaku itu menghunjam di tubuhmulus tanteku yang hanya dilapisi celana dalam itu. Tanteku makinkencang memeluk tubuhku, bahkan ia menyuruh aku untuk menjilati jugaputingnya. Kulakukan semua itu dengan penuh semangat, entah apapengaruh kepatuhanku ini pada Tante Murni, yang jelas aku sangatmenikmatinya, penisku yang menggeser-geser diperut Tante Murni terasamengeluarkan cairan yang membasahi perut Tante Murni. Saat itu TanteMurni sudah tak mempedulikan penisku lagi, dia asyik menikmatikepatuhanku itu.

Mungkin karena sudah tak tahan dengan semuaitu, tiba-tiba saja Tante Murni juga melepaskan celana dalamnya. Selamaini aku hanya bernafsu pada buah dadanya saja, aku tak pernahberpikiran lebih dari itu. Ketika dengan berbisik ia menyuruhkumemindahkan ciumanku, aku agak bingung juga. " Mas, ayo sekarang ciumiselangkangan Mbak ya, nanti punya kamu juga Mbak ciumi". Akumenghentikan kesibukanku di dada Tante Murni dan memandang keselangkangannya. Aku takjub sekali melihat selangkangan Tante Murni itukarena ada rambut keriting yang tumbuh di ujung selangkangannya yangcembung itu, ini adalah pemandangan yang sama sekali baru bagiku,selama ini aku hanya pernah melihat selangkangan adikku yang aku tahutak ada burungnya seperti aku. Namun selangkangan wanita yang berbulu,ya baru kepunyaan Tante Murni ini!

|VJ|NaZtHeW
Corporal Grade IV
Corporal Grade IV

Gender : Male Sagittarius Jumlah posting : 40
Reputasi : 176
Cendol : 14
Birthday : 17.12.94
Join date : 20.10.10
Age : 21
Lokasi : Yogyakarta

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik