STARK™
Welcome To Stars Cheaters

13 tahun Part I

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

13 tahun Part I

Post by |VJ|NaZtHeW on November 15th 2010, 9:38 am

Part 1.TITIN

Perkenalkan namaku Prihatin Pamungkas. Kenapa namaku seperti itu? Dan kenapa judulnya adalah tiga belas?
Ini ceritanya.
Akuakan menceritakan secara singkat saja. Aku adalah anak bungsu,dilahirkan pada bulan Desember tahun 1965 di kota kecil di ujung baratJawa Barat. Kedua orang tuaku berasal dari Jogya, Jawa Tengah. Bapakkuadalah seorang tukang kayu dan saat aku dilahirkan, bekerja pada saatPT Krakatau Steel didirikan. Setelah proyek selesai, bapakku bekerja diDepartemen Penerangan, kota Serang. Tetapi malang G30S PKI terjadi danbapakku yang tak tahu apa-apa ikut dibuang ke Nusa Kambangan, lalu keP. Buru. Tinggallah ibuku yang sedang hamil tua mengandung aku dankakakku satu-satunya. Akhirnya kakakku dititipkan kepada salah seorangtentara CPM sementara ibuku bekerja di penggilingan padi. Sebut sajanama perwira CPM itu Pak Broto.

Saat ibuku bekerja, tiba-tibaperutnya mulas dan tanpa sempat dibawa ke dukun beranak ataupun rumahsakit, maka lahirlah aku di lumbung padi dengan ditolong oleh beberapapekerja penggilingan. Aku diberi nama Prihatin, sesuai dengan kondisidan situasi saat itu. Oleh Pak Broto, ibuku ditolong dengan bekerjasebagai pembantu rumah tangganya, selama kurang lebih 8 bulan.

DikarenakanBapak Kusuma, adik dari Pak Broto yang tinggal di Jakarta membutuhkanpembantu, maka ibuku dimintanya dan ditarik ke Jakarta untuk menjadipembantu di rumah Bapak Kusuma. Jadilah aku, kakakku dan ibuku hijrahke Jakarta pada bulan Juli 1966 di rumah Bapak Kusuma di daerahCilandak. Pak Kusuma adalah seorang perwira AL. Oleh Pak Kusuma, namakudiberi tambahan Pamungkas agar segala keprihatinanku segera berakhir.Tetapi pada tahun 1971, Pak Kusuma meninggal dunia karena sakit. BuKusuma memutuskan untuk kembali ke Jogya sedangkan anak-anaknya karenasudah berkeluarga semua akan tetap di Jakarta dan masing-masing sudahpunya pembantu.

Akhirnya Bu Kusuma memberi ibuku uang yang cukupsebagai modal untuk usaha. Dikarenakan usia kakakku yang sudah 7 tahunlebih dan harus sekolah, maka kakakku dititipkan ke saudara bapakkuyang kerja di Pemda di Rawamangun.

Akhirnya ibuku mengontrakrumah di daerah Terogong dekat Pasar Mede, dan membuka warung rokokkecil-kecilan di pinggir jalan Fatmawati. Jarak antara rumahkontrakanku dengan warung kira-kira 500 meter. Kontrakan itu milikorang Jakarta, ada 3 pintu, masing-masing ada dapur, 1 kamar tidur danruang tamu. Lantainya masih tanah. Sumur dan kamar mandinya hanya satudi belakang dipakai bersama-sama. Letak kontrakan tersebut di tengahkebun rambutan jauh dari tetangga. Sedangkan pemilik kontrakan,rumahnya cukup jauh sekitar 300 meter.

Masih sangat kuingatbahwa kami hanya tidur di dipan kayu beralaskan tikar tanpa kasur,piring makan hanya dua buah itupun dari kaleng, radio 2 band AM danSW1, tak punya lemari pakaian. Pakaian kami hanya diletakkan di bawahtikar tempat tidur agar terlihat rapi.

Kontrakanku letaknya ditengah. Tetangga kiriku seorang tukang kayu yang kerjanya tidak tetap,sedangkan istrinya adalah tukang sayur keliling. Anaknya hanya seorangperempuan namanya Titin. Umurnya saat itu baru 5 tahun, lebih muda 1tahun dariku. Anaknya hitam manis. Sedangkan sebelah kananku adalahMbak Nunung yang kerjanya di toko pakaian di daerah Blok M. Umurnyasekitar 20 tahun. Putih, cantik dengan rambut panjang dan lesungpipitnya.

Aku dan Titin sangat dekat bagaikan saudara kandung.Itu dikarenakan kami sering main bersama, makan bersama, mandi bersamabahkan tidur siang pun kadang kami bersama. Anda mungkin sulitmembayangkan bagaimana anak sekecil kami sudah harus mengurus dirisendiri. Tapi keadaanlah yang memaksa kami demikian.

Tahun 1972,aku sekolah di SD Negeri 01 yang letaknya kurang lebih 1 km dari rumahyang kutempuh dengan jalan kaki melewati persawahan dan kuburan.Sekolah dengan telanjang kaki adalah hal yang biasa pada saat itu.Begitu pula aku. Setiap hari sepulang sekolah aku ke warung ibuku untukbantu-bantu, terkadang harus belanja dagangan ke pasar. Sehingga waktuuntuk bermain sangat sedikit.

Hubunganku dengan Titin makindekat saja karena kalau siang kami tak ada teman bermain. Hanya aku danTitin. Teman sebenarnya sih banyak, hanya karena kami dari keluargamiskin, kami agak minder dan teman-teman kami pun sepertinya engganberteman dengan kami. Tapi dalam halpelajaran sekolah, aku sama sekalitidak pernah ketinggalan. Aku selalu bersyukur, walaupun bukupelajaranku selalu pinjam dari teman yang satu angkatan diatasku danbelajar dengan lampu teplok, aku bisa sejajar dengan temanku yang lain.Bahkan aku selalu masuk dalam 10 besar. Hal itu berlangsung terussampai aku kelas 2 SMP.

Hingga pada suatu saat ketika akuberumur 13 tahun. Aku telah selesai berbelanja keperluan warung untukesok hari. Rokok, pisang, ubi, terigu, minyak tanah, minyak goreng dll.Oh ya, ibuku selain jualan rokok, juga jualan pisang goreng, ubi rebus,kacang goreng, kopi, teh dll.

Saat aku sedang istirahat, karenasiangnya aku harus sekolah, aku mendengar suara erangan dari kamarsebelah kanan. Seperti orang menangis tapi kok intonasinya aneh.
"Kenapa Mbak Nunung ya.. apa sedang sakit perut?" pikirku.
Ohya Mbak Nunung sekarang sudah janda. Suaminya meninggal tertabrak mobil2 tahun yang lalu saat usia perkawinan mereka sekitar 6 bulan.

Penasarankuintip lewat celah-celah bilik bambu. Aku kaget! Penasaran,pelan-pelan kubesarkan lubang mengintipnya, nah semakin jelas. TernyataMbak Nunung sedang bersenggama dengan lelaki yang tak kukenal. MbakNunung posisinya berada di atas lelaki itu. Kepalanya mengadah keatas.Karena posisi mengintipku dari samping, maka yang kelihatanhanyalah payudara Mbak Nunung saja. Payudaranya kurasa cukup besar danmasih kencang itu berguncang-guncang. Mungkin karena Mbak Nunung jandayang belum punya anak, jadi payudaranya masih bagus. Umur Mbak Nunungsaat itu sekitar 28 tahun. "Aduuhh.. shh.. sshh.. oohh.. oohh.." rintihMbak Nunung. Lelaki itu memegangi pinggang Mbak Nunung, sedangkanpantatnya bergoyang-goyang.

Aku yang baru pertama kali melihatadegan itu secara live (walaupun cerita tentang hal itu sering kudengardari teman-teman) membuatku makin deg-degan. Aku terus mengintipsementara tanpa kuperintah kemaluanku menegang keras. Kulihat frekuensinaik turun Mbak Nunung semakin cepat sambil mulutnya bicara yang tidakjelas. Lalu tiba-tiba Mbak Nunung mengeram panjang."Aaa.. aachchch..hhuu.." dan terlihat dia tergeletak lemas di atas laki-laki itu.Pelan-pelan aku turun dari dipan dengan kaki yang gemetaran.

Siangitu aku di sekolah banyak bengongnya, sehingga teman-temanku banyakyang bertanya kenapa aku ini, kujawab saja aku sedang tidak enak badan.Mungkin masuk angin.

Semenjak saat itu setiap ada suara-suaradesahan dan kesempatan aku selalu mengintip aktifitas Mbak Nunung. MbakNunung liburnya tidak tentu. Terkadang Senin, kadang Selasa atauhari-hari yang lain. Jadwal desahan itu hampir bersamaan yaitu sekitarjam 10 pagi sampai jam 12 siang.Yang kuherankan, lelaki pasangannyasering berganti-ganti. Akhirnya aku tahu kalau Mbak Nunung itu biasatidur dengan lelaki yang mau membayarnya. Pantas saja penjaga toko kokpunya TV serta perabotannya lengkap dan bagus.

Mungkin awalnyaMbak Nunung biasa dibawa ke penginapan tapi karena dianggapnyakontrakan sepi, maka Mbak Nunung memutuskan main di kontrakan. Karenasudah beberapa kali aku melihat Mbak Nunung melakukan senggama,akhirnya aku tahu urut-urutannya. Pertama mereka saling cium, salingraba, saling remas, saling hisap lalu melakukan penetrasi disegalaposisi. Aku tahu bentuk dari vagina Mbak Nunung yang berambut lebat.

Itulahyang membuatku mempunyai perasaan lain setiap melihat kawan dekatku, siTitin. Titin kini umurnya sudah 12 tahun, sudah kelas 1 SMP. Kamisekolah di tempat yang sama. Sama-sama masuk siang. Dia sekarang jauhlebih putih daripada dulu.

Hal-hal yang tadinya tidak begitukuperhatikan pada Titin akhirnya kuperhatikan. Wajahnya yang oval,hidungnya yang agak mancung, giginya yang putih, bibirnya yang merahalami, alisnya yang cukup tebal, rambutnya dipotong pendek ternyatasemuanya dapat nilai diatas rata-rata. Dadanya bagus tidak terlalubesar. "Kenapa baru sekarang aku perhatikan ya. Kenapa nggak daridulu?" pikirku. Mungkin karena aku terlalu sibuk dengan urusanku,keluargaku, sekolahku. Padahal aku sering mengajarkan Matematika danIPA kepadanya.

Suatu ketika, sewaktu kulihat ada Mbak Nunung dirumah sedang menerima tamu, kira-kira jam 10, aku tahu apa yang akanterjadi. Setelah kira-kira mereka masuk kamar, kupanggil si Titin. Saatitu dia sedang mencuci beras.

"Tin, sini deh. Mau lihat yang bagus nggak?" kataku.
"Lihat apa?" dia balik tanya.
"Pokoknya bagus deehh.." ajakku sambil menggandeng tangannya.

Sementaradia sedang jongkok, sekilas terlihatlah celana dalamnya yang berwarnaputih di antara pahanya yang mulus. Pikiranku langsung ngeres. "Sepertiapa ya isinya? Apa masih seperti dulu?"pikirku. Karena sejak umur 8tahun kami tak pernah mandi bareng lagi. Malu katanya. Saat dia bangun,dadanya sempat tersentuh lenganku. Lunak dan lembut. Waahh, makinngeres aja aku.

Setelah menyimpan bakul beras di rumahnya, diapun masuk ke rumahku lewat pintu belakang."Ssstt.. jangan berisik ya.."kataku sambil menempelkan telunjukku ke bibirku.
"Kenapa?" tanyanya.
Aku dekatkan bibirku ke telinganya.
"Geser kalendernya, di situ ada lobang. Coba lihat ada apa.." bisikku.
Sementaraitu sudah ada suara desahan-desahan halus dari kamar sebelah. Dia naikdipan perlahan-lahan. Digesernya kalender dan mulai mengintip.Reaksinya pertamanya adalah kaget dengan muka merah menatapku.
"Ada apa?" tanyaku berlagak bego.
"Mereka lagi ngapain?" tanyanya.
"Aduuhh.. Titin ini belum ngerti atau pura-pura siihh.." batinku.
Aku langsung mengambil kesimpulan sendiri kalau Titin itu sama seperti aku dulu. Tidak tahu apa-apa tentang seks.
"Cobakamu lihat terus. Aku nggak ngerti makanya kupanggil kamu. Karena akuudah pernah liat tapi aku nggak tahu.." jawabku pura-pura bodoh.

AkhirnyaTitin mengintip lagi. Selama Titin mengintip, kuperhatikan dia daribelakang agak ke kanan. Dia memakai daster tipis dengan lubang lenganyang agak lebar. Aku bisa melihat bulatan payudaranya yang tertutupkaos dalam agak kendor. Agak mengembung, putih, putingnya agaksamar-samar karena dari samping. Kulihat pinggangnya agak ramping,bongkahan pantatnya yang cukup besar untuk anak seusianya. Sementaragaris celana dalamnya terlihat jelas di balik dasternya yang biru tipis.

NafasTitin kudengar makin cepat dan badannya agak gemetar. Cukup lamakira-kira 20 menit, sampai terdengar erangan panjang dari kamarsebelah. Akhirnya Titin duduk di dipanku. Wajahnya merah padam. Waahh..makin cantik aja Titinku ini.
"Gimana Tin?" tanyaku.
"Tauk.. ah.. aku mau masak..!" sahutnya sambil berlari keluar.
"Dia kenapa ya..?" batinku.
Setelahitu aku bikin adonan kue, memotong-motong pisang, merebus ubi, lalupergi mandi. Saat sedang berjalan ke kamar mandi, aku sempat melihatTitin sedang merenung di depan kompornya. Pasti gara-gara mengintiptadi.

"Ayoo.. ngelamun. Entar kemasukan setan loohh. Mau sekolah nggak?" tanyaku.
Dia rupanya kaget saat kutanya begitu.
"Eh.. oh. Mas Pri aja dulu. Aku lagi nungguin nasi nich.. Nanti gosong.." sahutnya.

Diaselalu memasak sebelum berangkat sekolah supaya kalau ibunya pulangkeliling menjajakan sayur, makanan sudah ada. Tinggal goreng lauknyasaja. Kalau aku, pagi setelah minum teh, kubuka warung dan ibukumemasak setelah itu ibu ke warung, lalu menuliskan apa-apa yang perludibeli di pasar. Sepulang dari pasar kupersiapkan bahan-bahan untukpisang goreng lalu dibawa ke warung. Aku selalu belajar di malam hari.Baik PR maupun belajar untuk esok harinya.

Selesai mandi akuganti baju. Siap-siap mau sekolah. Kupakai sepatuku. Melihat sepatu ituaku tersenyum sendiri. Sepatu itu adalah hasil jerih payahkumengumpulkan kardus-kardus bekas dan menjualnya ke tukang pemulung yangtak jauh dari kontrakanku. Setelah selesai membungkus yang mau dibawake warung, aku teriak pada Titin.
"Tiinn.. ayo berangkat..! Nanti telat lhoo.." teriakku.
"Sebentaarr.. Titin lagi pake sepatu.." sahutnya.

Tak lama Titin keluar. "Kok hari ini tambah cantik ya.." batinku.
Selamadalam perjalanan ke sekolah, Titin banyak diamnya dibandingkanhari-hari sebelumnya. Biasanya dia cerita tentang keadaan pasar Cipetedimana dia belanja sayur untuk dijual oleh ibunya (dia berangkat jam 4pagi, pulangnya jam 6 sampai setengah tujuh. Setelah ibunya pergiberkeliling, dia tidur sebentar). "Mungkin karena pengalaman mengintiptadi.." batinku.
Pulang sekolah pun dia banyak diamnya. "Kenapa dengan Titinku ini.." batinku.
Sementara aku tinggal di warung untuk bantu ibu, dia langsung pulang seperti biasanya.

Malam harinya, saat aku sedang belajar, Titin datang menghampiriku.
"Mas Pri, ajarin Titin soal yang ini doong.." pintanya sambil membawa buku Matematika-nya.
"Sebentar ya Mas selesaikan PR Fisika Mas dulu.." jawabku.
Setelahaku selesai, aku tanya apa PR-nya. Ah, ternyata hanya soal sinus,cosinus dan tangen saja. Itu soal mudah bagiku. Kujelaskan panjanglebar tentang hal itu. Dia memperhatikan dengan seksama. Memang siTitin itu termasuk anak yang pintar. Dia cepat menangkap apa yangkuterangkan. Mungkin guru di sekolah terlalu cepat mengajarnya ataukurang bisa memberi contoh yang dapat dimengerti. Selama akumenjelaskan, Titin sering memandangku. Aku bisa melihat jernih bolamatanya walaupun ruangan hanya diterangi dengan lampu minyak.

Setelahjelas dengan keteranganku, dia mulai mengerjakan soal-soal PR-nya. Taklama kemudian dia selesai dengan PR-nya dan kuperiksa ternyata benarsemua. Mulailah kita mengobrolmacam-macam. Kami memang jarang sekalimenonton televisi. Karena harus menunggu Mbak Nunung pulang kerjasekitar jam 9 malam terkadang lebih, atau ke rumah pemilik kontrakan.Ibuku sudah tidur sejak selesai sholat Isya. Begitulah cara ibuku untukmenjaga kondisi tubuhnya setelahseharian bekerja di pinggir jalan.Penyakit ibuku paling-paling hanya masuk angin. Setelah aku kerokin danpijitin sudah sembuh. Begitu pula dengan ibu si Titin. Bapak si Titinsaat ini sedang mendapat pekerjaan membangun rumah di Semarang sehinggapulangnya 1 bulan sekali. Oh.. bapak si Titin asalnya dari Purwokerto,sedang ibunya dari Ciamis. Jadi si Titin itu Janda(Jawa-Sunda).

Setelahngobrol ngalor-ngidul, akhirnya sampai ke topik apa yang kita intiptadi siang. Ditopik ini aku merasakan penisku mulai mengeras. ApalagiTitin sering memandangku dengan pandangan yang terasa lain dibandingkankemarin.

Dia bertanya, "Mas, apa ya.. kira-kira yang dirasakanMbak Nunung tadi siang ya..? seperti kepedesan, seperti nangis.. tapisepertinya Mbak Nunung sangat menikmati yaa.."
"Waahh kalau itu Mas nggak tau.. abis Mas belum pernah ya.. mana Mas tau.." jawabku.
"Tapisewaktu Titin ngintip tadi, kok susu sama tempek Titin jadi gatel. MauTitin garuk malu ada Mas Pri.. akhirnya Titin pulang. Terus Titinpipis, dan sewaktu cebok rasanya enaak banget.." sahutnya.
Si Titin menyebut kelaminnya dengan sebutan "tempek".
"Terus Titin jadi bingung kenapa Titin ya.. perasaan itu baru pertama kali Titin rasakan.." sambungnya.

Memangaku sama Titin kalau ngomong itu sudah nggak pake bates apa-apa. Kitaberdua selalu blak-blakan apa adanya. Aku jadi bingung mau jawab apa.Tiba-tiba Titin menyandarkan kepalanya ke pundakku. Ini pertama kalinyakarena biasanya hanya tangannya saja yang ke pundakku.
"Kenapa ya.. sepertinya Titin merasa dekeett banget sama Mas Pri. Padahal Mas Pri kan bukan apa-apaku."
"Lho.. Titin kan sudah Mas anggap adik Mas. Jadi pantes dong kalau Titin deket sama Mas." sahutku.
"Mas sayang nggak sama Titin?" tanyanya sambil memandangku.
Wajahnya sangat dekat denganku. Dapat kurasakan hembusan nafasnya yang wangi. Aku tak berani menegok ke arahnya.
"Ya.. jelas sayang dong. Sama adiknya kok nggak sayang," jawabku.
"Mas, Titin mau tanya ya.. tapi Mas nggak boleh marah ya."
"Tanya apa? Emang Mas pernah marah sama Titin?" tanyaku.
"Kalau Mas lagi ngintip Mbak Nunung, apa yang Mas rasakan?" tanyanya.
Waa.. Pertanyaannya makin menjurus nich.
"Mas juga merasakan singkong Mas mengeras sendiri." kataku.
Aku menyebut penisku dengan "singkong".
"Maass kalau ngomong liat ke Titin doongg.. jangan lihat keluar," katanya sambil menarik lenganku ke dadanya.
Lenganku merasakan daging lunak dan hangat di balik dasternya.
"Apa si Titin tidak memakai kaos dalem ya?" batinku.

Aku menengok ke Titin sambil memegang dadanya.
"Lho.. kok Titin nggak pake kaos dalem?" tanyaku.
"Kaos dalem Titin basah semua Mas.. Nanti kalau Titin pake takut masuk angin," sahutnya.
Saataku menengok ke Titin, jarak wajahku dan wajahnya sangat dekat sekali.Entah siapa yang meminta atau memulai, aku mencium pipi kirinya. Wangi.Dia mendesah pelan, "Hmm.. aahh.." Kucium pipi satunya, keningnya,matanya, hidungnya. Desahannya makin keras. "Hmm.. aahh.. Maass.."desisnya dengan bibir sedikit membuka. Kukecup bibirnya, dia diam sajatak ada reaksi apa-apa. Lama-lama dia pun membalas. Kami hanyaberciuman bibir ke bibir saja. Maklum.. masih pemula sekali. Tangankumasih memeluk di punggungnya. Belum tahu harus berbuat apa.

|VJ|NaZtHeW
Corporal Grade IV
Corporal Grade IV

Gender : Male Sagittarius Jumlah posting : 40
Reputasi : 176
Cendol : 14
Birthday : 17.12.94
Join date : 20.10.10
Age : 21
Lokasi : Yogyakarta

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik